Hobi saya adalah membaca dan mendengarkan musik. Hal yang sering saya baca adalah FF (Fan Fiction). Bagi yang belum tahu, fan fiction adalah karya fiksi buatan penggemar. Dan biasanya para tokoh-tokohnya adalah idola penulis sendiri. Jika anda mencari kata Fan fiction di google anda bisa dengan mudah menemukannya, dan kebanyakan fan fiction yang ada adalah buatan penggemar K-POP dan K-Drama. Kali ini saya akan memposting salah satu fan fiction yang pernah saya baca, dan membuat saya berlinang air mata saat membaca fan fiction ini. Baiklah selmat membaca^^
Endless love
Author : MISSery
Cast:
Lee Donghae
Han Hyo Joo
Choi Siwon
Genre: sad-romance-happy end *genre apa ini? :D
Annyeonghaseo…. ^^
Maaf ya kalo ff nya bikin ngantuk :D
Siapkan tissue, buat ngelap ingus… hehehe… :D
Eh inget ya ini happy end.. jadi jangan galau duluan… dibaca sampe abis ya reader sayang, soalnya FF kali ini panjang banget kaya kereta… ^^
HEYYYY YANG HABIS BACA, JANGAN KABUR… KOMENN DULU YA… ^^
Tirai besar disibakan dan munculah seorang wanita dengan gaun pengantin berwarna putih, Cantik, itulah kata pertama yang terlintas di otakku. Aku tersenyum kala wanita itu memutar-mutar tubuhnya hingga gaun panjangnya ikut bergerak-gerak mengikuti pemakainya.
Aku tertegun, kehabisan kata melihat wanita itu terlihat seribu kali lipat terlihat lebih cantik dengan gaun pengantinnya. Seandainya saja akulah mempelai pria untuknya…
“Donghae… Donghae…” wanita itu menyadarkanku dari lamunan, ia mengibas-ngibaskan telapak tangannya tepat di wajahku.
“Bagaimana?” Tanyanya sambil memutar-mutar tubuhnya didepan kaca besar.
“Ehmmm… bagaimana ya…” ucapku sengaja menggantung kalimatku, ia menunggu kalimatku penuh harap, tentu saja tak perlu ditanya lagi kau terlihat cantik, batinku.
“Kau, terlihat… biasa saja..” ucapku menggodanya, ia tampak kecewa mendengar pendapatku. Ya wanita didepanku terlihat biasa saja, karena biasanya ia terlihat cantik.
“Ahh.. menyebalkan” ia memukul lenganku pelan.
“Ahhhss……..…” aku pura-pura meringis kesakitan, hanya untuk menggodanya.
“Donghae, aku tidak mau pakai gaun ini” ucapnya sambil menatap sebal pada gaun yang dipakainya.
“Hahaha… Hyo Joo-ah, aku hanya bercanda, kau… terlihat sangat sangat cantik..” bisikku di telinganya, membuatnya bersemu merah saat mendengarnya. Lagi-lagi Hyo Joo memukul lenganku karena berhasil menjahilinya.
“Ya… kau.. menyebalkan Lee Donghae” ucap Hyo Joo, ia kembali menatap dirinya di cermin, lalu tersenyum.
“Ya.. kau sudah gila, tersenyum sendiri seperti itu” ejekku, sambil memperhatikan Hyo Joo yang masih tersenyum-senyum sendiri.
“Tidak, aku hanya sedang membayangkan, saat berjalan dialtar dengan gaun ini, ahh… apa Siwon oppa akan suka dengan gaun ini?” tanya Hyo Joo.
“Tentu saja, ia pasti suka” lirihku. Rasanya sangat sakit saat mengucapkannya.
Hyo Joo masih memandangi dirinya di cermin, dan aku hanya bisa tersenyum hambar melihatnya sebentar lagi akan jadi istri orang.
Ya, Han Hyo Joo, aku dan Siwon adalah sahabat dekat, berbagi suka dan duka bersama hingga jatuh cinta pun pada orang yang sama, aku mencintai Hyo Joo jauh sebelum Siwon menyukai Hyo Joo, namun apalah daya jika yang dicintai Hyo Joo bukan aku, tapi Siwon.
Seminggu lagi adalah hari pernikahan mereka, dan aku, entahlah bagaimana menggambarkan perasaanku saat ini. Ingin sekali mengatakan perasaanku yang sebenarnya tapi apakah dengan begitu Hyo Joo akan membatalkan pernikahannya? Aku tak tahu.
Aku berdiri disamping Hyo Joo, membiarkan bayangan kami tertangkap kaca besar itu, aku tersenyum menatap pantulan bayangan kami dicermin, kemudian membayangkan kami berjalan di altar, lalu mengucapkan sumpah janji di hadapan Tuhan.
“Han Hyo Joo… bersediakah kau mendampingi Lee Donghae dalam suka dan duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut menjemputmu?” tanyaku dengan wajah serius.
“Ya,, aku bersedia” ucapnya mantap, lalu Hyo Joo tertawa lepas setelah mengucapkannya, aku menatap matanya, hingga ia berhenti tertawa.
“Ahh.. maaf..” Hyo Joo menutup mulutnya menahan tawa, aku meraih tangannya saat Hyo Joo hendak meninggalkanku. Aku mensejajarkan tubuhku dengannya, menyuruhnya menatap kaca besar itu.
“Kita serasi ya?” tanyaku sambil menatap kaca itu, aku dengan setelan jas hitam dan Hyo Joo dengan gaun pengantinnya.
“Donghae, jangan bercanda” ucapnya sambil menepis tanganku. Hyo Joo berjalan lalu membelakangiku, hingga aku tak dapat melihat wajahnya.
“Aku tidak bercanda! Han Hyo Joo, apa selama ini yang kau pikirkan hanya Siwon? Apa sedikitpun tidak ada aku difikiranmu?”
“Donghae.. aku tidak mengerti, jangan bercanda..” ucapnya kesal, aku berbalik dan meraih wajahnya agar menatapku.
“Apa aku terlihat sedang bercanda?” tanyaku lagi, Hyo Joo menatap mataku mencari kesungguhan didalamnya.
“Maaf, aku harus ganti baju, sebentar lagi Siwon menjemputku” Hyo Joo menepis tanganku lalu mencoba berjalan pergi, namun aku segera memeluknya, tak mau ia pergi, setidaknya untuk saat ini.
“Donghae, lepaskan” Hyo Joo meronta minta dilepaskan, tapi aku bersikeras memeluknya, dan semakin mengeratkan pelukanku.
“Han Hyo Joo, dengarkan aku… Aku mencintaimu.. sangat mencintaimu…” ucapku akhirnya, kata yang telah bertahun-tahun lamanya aku pendam, hari ini akhirnya bisa aku ungkapkan.
Hyo Joo membeku mendengar ungkapan cintaku barusan, ia menatapku tak percaya. Mataku tiba-tiba menangkap sosok Siwon yang tengah berjalan mendekat, semakin dekat dan tiba-tiba ide gila itu muncul diotakku.
Aku meraih wajah Hyo Joo dengan tanganku mendekapnya dan mendekatkannya padaku, lalu aku memiringkan kepalaku. Lalu melepaskannya beberapa saat kemudian, Hyo Joo tampak kaget dengan apa yang barusan aku lakukan, aku mengusap bibirnya pelan dengan ujung jariku seolah-olah kami habis berciuman. Aku menatap Siwon yang tampak terkejut dengan adegan yang baru saja aku mainkan. Hyo Joo menelusuri pandangan mataku lalu terkejut begitu mendapati Siwonnya tengah berdiri kaku dengan tangan yang mengepal.
“Si-Siwon o-oppa….” Lirih Hyo Joo, tak sanggup menyebut namanya.
“Ternyata seperti inikah kau dibelakangku?” tanyanya dengan suara yang bergetar menahan marah.
“Aku bisa menjelaskannya.. sungguh oppa… ini tidak seperti yang kau bayangkan…” Hyo Joo menitikan air matanya, ia mendekat kearah Siwon ragu-ragu.
“Hyo Joo, aku tidak bisa memaafkanmu… aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita” ucap Siwon, perkataannya membuat Hyo Joo seperti seorang tahanan yang di vonis hukuman mati, tubuh Hyo Joo bergetar seiring dengan tangis yang kian merebak.
“Oppa.. aku mohon dengarkan dulu..” pinta Hyo Joo sambil meraih tangan Siwon, namun buru-buru Siwon menepisnya, lalu pergi meninggalkan Hyo Joo yang berteriak histeris memanggil namanya, dan aku terpaku melihat Hyo Joo kini menangis meraung meminta Siwon-nya kembali padanya.
Haruskah aku tersenyum saat ini? Keinginanku kini menjadi kenyataan, tapi melihat Hyo Joo seperti itu hatiku terasa sakit berkali-kali lipat.
“Han Hyo Joo, maafkan aku…” bisikku.
******
Sejak kejadian di butik itu, aku tidak pernah lagi bertemu Hyo Joo. Walau rumah Hyo Joo tepat bersebelahan dengan rumahku, namun aku tak pernah melihatnya karena ia tak pernah lagi keluar dari rumahnya sejak saat itu. Aku khawatir dengan kondisi Hyo Joo hingga setiap hari aku mendatangi rumahnya, dan setiap hari pula Hyo Joo menolak bertemu denganku. Kata ibunya, Hyo Joo terus-terusan mengurung dirinya dikamar dan tidak mau makan. Sungguh saat itu juga aku ingin mengulang kebodohanku dan memperbaikinya, malaikatku, Han Hyo Joo, saat ini kehilangan sayapnya.
*****
Hari ini seharusnya adalah hari pernikahannya, tapi Siwon sudah membatalkan pernikahan mereka. Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Hyo Joo hari ini. Aku melangkahkan kakiku, membuka pintu menuju balkon kamarku, yang berhadapan langsung dengan balkon kamar Hyo Joo, dari sini aku selalu memperhatikan Hyo Joo, mendengarkan suara tangisnya setiap malam, mengintipnya yang sedang menatap sedih pada baju pengantin yang ia pajang di manenequinnya. Tapi hari ini jendela besar itu tertutup rapat, dan tiba-tiba suara pintu yang diketuk kasar menggangguku. Aku melepas pandanganku dari kamar Hyo Joo dan beralih membukakan pintu dan betapa terkejutnya aku, ketika Hyo Joo kini ada dihadapanku, lengkap dengan baju pengantinnya.
“Hyo Joo….” panggilku, aku langsung menghambur kedalam pelukannya, meluapkan rasa rinduku padanya. Ia melepas pelukanku lalu menatapku dengan tatapan memohon.
“Donghae, bisa kau antarkan aku, aku mohon…”
“Hyo Joo, tapi Siwon dan kau…”
“Aku mohon, sekali ini saja…” pintanya, dengan mata berkaca-kaca, Hyo Joo menahan tangisnya hingga aku tak sanggup melihatnya seperti itu. Kuambil kunci mobil diatas meja dan kupakai jas hitamku lalu pergi bersamanya.
Selama di perjalanan, Hyo Joo hanya diam menatap jalan, sesekali aku memperhatikannya sedang mengusap habis air matanya. Sakit sekali melihatnya seperti ini, hingga tanpa sengaja air mataku ikut mengalir tanpa ijin. “Han Hyo Joo maafkan aku” bisikku.
*****
Hyo Joo dan aku kini telah sampai di gereja tempat Hyo Joo dan yooochun seharusnya melangsungkan pernikahannya. Hyo Joo segera masuk dan duduk disalah satu kursi panjang yang berderet rapi. Ia mengambil ponselnya dan menelepon sesorang.
“Oppa… Tunggu jangan dimatikan.. biarkan aku bicara..” ucapnya tergesa-gesa, Hyo Joo mengatur emosinya lalu kembali bicara “Oppa.. sekarang aku ada digereja tempat kita akan menikah, aku menunggumu oppa.. aku mencintaimu… sangat mencintaimu.. hiks.. hikss… hikss…” Hyo Joo kembali membiarkan air matanya menetes membasahi pipinya, ponsel ditangannya dibiarkan jatuh, dan yang terdengar kini hanya isak tangisnya yang memilukan.
*****
Sudah 4 jam aku dan Hyo Joo menunggu disini, Hyo Joo masih memandang pintu masuk dengan tatapan penuh harap, berkali kali ia menatap layar ponselnya berharap Siwon meneleponnya.
“Nona, kapan mempelai prianya datang? maaf saya ada urusan” ucap pak pendeta yang dari tadi duduk diam menunggu bersama kami.
“Se-sebentar lagi..” ucap Hyo Joo, ia kembali mengeluarkan air matanya “A-aku mohon… jangan pergi, tunggu sebentar lagi, yooochun oppa pasti datang” pintanya dengan suara bergetar, menahan tangisnya yang siap merebak.
“Maaf nona, tapi saya benar-benar harus pergi” ucap pendeta itu, lalu membungkuk meminta maaf dan meninggalkan gereja ini.
Air mata tak dapat lagi Hyo Joo tahan, ia menangis semakin lama semakin keras, meremas kasar gaun pengantinnya, lalu membanting ponselnya hingga pecah berkeping-keping. Aku berjalan mendekat lalu berjongkok dihadapannya.
“Hyo Joo-ah..” ucapku dengan suara tercekat “maaf.. maafkan aku…” tetes demi tetes air mata terjatuh dengan lancangnya, aku tak kuasa melihat wanita yang amat kucintai menangis seperti ini, hanya ucapan maaf yang terus terlontar dari bibirku. “Han Hyo Joo, maafkan aku…”
*****
Jam sudah menunjukan pukul 18.45 dan Hyo Joo masih dengan setia menunggu Siwon, riasan wajahnya kini tidak berbentuk, matanya sembab karena terlalu banyak menangis dan entah bagaimana lagi mendeskripsikan penampilan Hyo Joo saat ini.
“Hyo Joo-ah” panggilku, hati-hati aku duduk disampingnya lalu menggenggam tangannya “Ayo pulang” ajakku.
“Sebentar lagi, Siwon pasti datang” Hyo Joo bersikeras memintaku untuk menunggu, tapi aku tahu Siwon tak akan datang.
“Hyo Joo-ah, dengarkan aku.. Siwon tak akan datang, percayalah” ucapku sambil menangkup wajahnya dengan tanganku agar ia mau menatapku.
“Donghae.. dia pasti datang.. hiks..hiks..hikss….” lagi-lagi Hyo Joo menangis, entah sudah berapa banyak air mata keluar dari matanya, aku memeluknya, menenangkannya.
“Ayo sekarang kita pulang” ucapku ketika Hyo Joo terlihat lebih tenang. Dan keajaiban datang, Hyo Joo berdiri dari duduknya lalu mengikutiku berjalan.
“Donghae, bolehkah.. bolehkan aku yang menyetir?” tanyanya dengan nada memohon.
“Baiklah” ucapku tanpa pikir panjang, aku menyerahkan kunci mobilku padanya, lalu berjalan menuju pintu penumpang. Tapi belum sempat aku membuka pintu itu, Hyo Joo sudah menjalankan mobilku dan melaju dengan sangat cepat.
“HAN HYO JOO…..….” Teriakku sambil berlari mengejar mobilku, namun percuma lariku tak sebanding dengan kecepatan mobilku.
*****
Hyo Joo terus melajukan mobil Donghae dengan cepat, yang ada di pikirannya saat ini adalah kematian. Ya, Hyo Joo ingin mengakhiri hidupnya, baginya tak ada gunanya lagi ia hidup jika pria yang amat di cintainya tak ada lagi di sisinya. Bodoh memang, tapi itulah cinta.
Hyo Joo memejamkan matanya ketika sebuah truk besar melintas didepannya, ia membanting kemudinya dan menabrakan mobil Donghae ke mobil truk tersebut. Dan kecelakaan tak dapat di elakkan lagi, mobil yang Hyo Joo kendarai terpelanting jauh ke sisi jalan.
Hyo Joo mengerang kesakitan dan perlahan kesadarannya memudar “Siwon oppa… saranghae..” lirihnya sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
*****
Sudah seminggu Hyo Joo dirawat di rumah sakit dan mengalami koma, namun Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup, hingga 2hari yang lalu Hyo Joo sadar dari komanya.
“Hyo Joo-ah, ayo makan.. kau harus makan..” pinta Donghae sambil mendekatkan sendok yamg berisi bubur kedekat mulut Hyo Joo. Sejak kecelakaan itu Donghae tak pernah sedetikpun meninggalkan Hyo Joo, ia lah orang yang menjaga Hyo Joo selama dirumah sakit.
“Aku kenyang” bisiknya hingga nyaris tak terdengar.
“Satu suap lagi, ya?” Donghae tetap mencoba membujuk Hyo Joo, namun Hyo Joo tak bergeming.
“Donghae, sampai kapan mataku diperban?” tanya Hyo Joo.
“Sebentar lagi dokter akan kemari dan membuka perbanmu” ucap Donghae.
Cklek
“Annyeonghaseo, nona Han” sapa dokter yang menangani Hyo Joo.
“Annyeonghaseo” balas Hyo Joo dan Donghae.
“Nahh.. sekarang kita bisa buka perban dimatamu” ucap sang dokter lalu mendekat ke tempat tidur Hyo Joo. Dengan perlahan dokter itu membuka perban yang meliliti mata Hyo Joo.
“Sekarang kau bisa buka matamu perlahan” ucap sang dokter menginstruksi.
Hyo Joo membuka matanya perlahan sesuai dengan apa yang dikatakan dokter itu. Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan.
“Hyo Joo, bagaimana?” tanya Donghae khawatir akan perubahan raut wajah Hyo Joo.
“A-aku… kenapa gelap? Aku tidak bisa melihat?” ucap Hyo Joo panic, tangannya mulai meraba-raba sekitarnya, Donghae segera menangkap tangan Hyo Joo.
“Aku disini jangan takut..” ucap Donghae menenangkan.
“Donghae.. aku tidak bisa melihat.. aku takut.. aku takut…” Hyo Joo mulai menitikan air matanya. Semakin lama semakin deras.
“Dokter ada apa dengan mata Hyo Joo?” tanya Donghae berusaha untuk tenang.
“Nona han bisa saja mengalami kebutaan, itu karena pecahan kaca yang mengenai kornea matanya” ucap sang dokter dengan hipotesisnya.
“Tidak… tidak…. AKU TIDAK MAU BUTA…………….” Teriak Hyo Joo histeris, Hyo Joo semakin kencang menangis, ia tak sanggup menerima kenyataan bahwa ia buta.
Donghae yang mendengar tangis memilukan Hyo Joo hanya bisa menatap iba pada wanita yang amat dicintainya dan kini perasaan bersalah semakin besar ia tanggung karena perbuatannya.
****
Sudah seminggu sejak Hyo Joo dinyatakan mengalami kebutaan dan sejak saat itu pula Donghae tak pernah lagi bertemu Hyo Joo, setiap Donghae datang untuk menjenguknya, Hyo Joo akan mengusirnya, melempar barang-barang yang ada didekatnya ataupun berteriak dan menangis histeris. Donghae tak sanggup lagi melihat Hyo Joo seperti itu, terpuruk dalam gelap dunianya.
Hingga akhirnya Donghae mendatangi Dokter yang menangani Hyo Joo, ia ingin mendonorkan kornea matanya untuk Hyo Joo, agar Hyo Joo dapat melihat lagi. Namun Dokter tak dapat mengabulkan permintaan Donghae, hanya orang yang meninggal saja yang bisa mendonorkan kornea matanya.
*****
“Han Hyo Joo maafkan aku…” lirih Donghae di depan tubuh Hyo Joo yang tengah terlelap, hanya dengan cara ini Donghae dapat menemui Hyo Joo. Donghae mengusap lembut rambut panjang Hyo Joo lalu mengecup keningnya.
“aku mencintaimu… Tunggu sebentar lagi, aku akan membawa Siwon kembali dan donor kornea mata untukmu” ucap Donghae, ia memandangi wajah Hyo Joo cukup lama, setelah puas, Donghae meninggalkan kamar Hyo Joo dan berjalan ke area parkiran.
****
Ting tong Ting tong
Donghae memencet bel rumah Siwon berkali-kali hingga orang yang di tuju membukakan pintu.
“Mau apa kau kemari?” tanya Siwon dingin.
“menjelaskan sesuatu padamu” balas Donghae.
“Kalau itu ada hubungannya dengan hubunganmu dengan wanita itu lebih baik pergi sekarang juga” ucap Siwon masih dengan sikap dinginnya.
“Kenapa tidak ke rumah sakit? Kau tidak peduli Hyo Joo sekarang sedang sakit?” tanya Donghae.
“Aku tidak peduli… Donghae-ah, aku mohon jangan bahas Hyo Joo lagi, dan aku mohon sekarang juga kau pergilah…” pinta Siwon sambil menutup pintunya, namun sebelum Siwon berhasil menutup pintu Donghae segera menahannya.
“HYO JOO BUTA….” Teriak Donghae, membuat Siwon membuka kembali pintunya.
“A-apa? Jangan bercanda Lee Donghae”
“Apa aku terlihat sedang bercanda? Hyo Joo buta dan ia membutuhkanmu, dan masalah dibutik waktu itu, aku tidak menciumnya! Hhh… aku memang sudah lama mencintainya, tapi Hyo Joo hanya mencintaimu.. kau harus percaya aku… Hyo Joo hanya mencintaimu…! Aku berharap dengan batalnya pernikahanmu, Hyo Joo bisa berpaling darimu. Tapi nyatanya Hyo Joo nekat bunuh diri dan kecelakaan itu mengakibatnya ia harus kehilangan penglihatannya, apa kau masih ragu bahwa Hyo Joo mencintaimu?” tanya Donghae, kata-kata Donghae barusan membuat Siwon tersadar bahwa ia telah salah menilai Hyo Joo, Hyo Joo hanya mencintainya bukan Donghae atau pria lainnya.
“Aku harap kau menemuinya dan kembalilah padanya” pinta Donghae, Donghae meninggalkan Siwon yang berdiri mematung ditempatnya. Donghae kembali menyalakan mesin mobilnya dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimum.
“Dan inilah saatnya, hal terakhir yang bisa kulakukan untuk Hyo Joo” Donghae melajukan mobilnya semakin cepat lalu dengan kecepatan tinggi Donghae menabrakan mobilnya pada pembatas jalan hingga mobil bagian depannya remuk tak berbentuk dan Donghae terpelanting keluar dari mobilnya. Darah segar mengalir dari kepala dan beberapa bagian tubuhnya, “Han Hyo Joo a-aku m-men-cin-taimu….” Ucapnya, hingga akhirnya Donghae kehilangan kesadarannya.
*****
_Two weeks letter
“Nona Hyo Joo silahkan buka matanya perlahan” ucap Dokter Jung pada Hyo Joo setelah suster membuka lilitan perban di mata Hyo Joo. Dikamar itu semua berkumpul, ada orang tua Hyo Joo dan ada Siwon, namun tanpa kehadiran Donghae.
“Bagaimana nona Han” tanya Dokter Jung. Hyo Joo hanya diam sambil menangis, mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya.
“A-aku……”
“bagaimana Hyo Joo-ah” kali ini Siwon angkat bicara, wajahnya panic karena Hyo Joo terus menangis.
“A-aku…. Aku bisa melihat lagi…” ucap Hyo Joo dengan air mata bahagianya.
“syukurlah” ucap dokter yang menangani Hyo Joo. Orang tua Hyo Joo pun segera memeluk putri semata wayangnya dan Siwon kini dapat bernafas lega.
“Terimakasih dokter, terimakasih eomma appa, dan terimakasih.. oppa…” ucap Hyo Joo sambil memeluk Siwon-nya.
*******
“eomma.. appa… sebenarnya siapa yang mendonorkan kornea matanya padaku.. ayo beri tahu aku, aku hanya ingin berterimaksih pada keluarganya” tanya Hyo Joo penasaran. Sudah berulang kali Hyo Joo menanyakan hal yang sama tentang siapa yang telah mendonorkan kornea mata untuknya namun tak ada jawaban dari orang tuanya, dokter, suster ataupun Siwon.
“Sudahlah jangan dipikirkan, orang yang mendonorkan konea mata padamu tak ingin kau mengetahuinya, Hyo Joo.. eomma dan appa harus segera ke kantor, sebentar lagi Siwon kemari, jaga dirimu sayang” ucap ibu Hyo Joo lalu mengecup kening putrinya dan berjalan meninggalkan Hyo Joo dikamar rawatnya.
“Aishh… bosan… aku ingin jalan-jalan” ucap Hyo Joo, tanpa pikir panjang Hyo Joo segera meninggalkan kamar rawatnya dan berjalan-jalan.
Hyo Joo duduk di salah bangku taman rumah sakit, ia menikmati semilir angin yang membelai wajahnya. Saat ini rasanya hidupnya terasa lengkap, ia bisa kembali melihat, dan hidupnya selalu dikelilingi orang-orang yang menyayanginya, ada orang tuanya terlebih ada Siwon, pria yang sangat dicintainya. Namun ada yang mengganjal hatinya, Donghae, –sahabatnya, tak pernah lagi mengunjunginya hampir 3 minggu lamanya. Ia merindukannya, baginya bukan Donghae penyebab kecelakan maupun kebutaan yang pernah dialaminya.
“Kau tahu tidak tentang pria tampan yang meninggal dua minggu yang lalu?” tanya seorang suster yang sedang berbincang-bincang di bangku taman yang letaknya tak jauh dari Hyo Joo.
“iya, pria tampan itu menyedihkan sekali, kudengar ia menabrakkan mobilnya pada pembatas jalan, agar ia bisa mati dan mendonorkan matanya untuk seorang pasien wanita yang dirawat disini” jawab suster satunya.
“Ahh… Dia benar-benar Pria yang baik, padahal sebelum kematiannya nya ia terus-terusan mengunjungi wanita tak tahu diri itu, walaupun wanita itu tak mengijinkannya masuk kekamar rawatnya tapi pria itu setiap hari masih mengunjunginya.. benar-benar wanita tidak tahu diri”
“kau tahu siapa namanya?” tanya suster itu penasaran
“kalau tidak salah.. namanya.. lee.. lee dong.. ahh aku ingat, namanya Lee Donghae”
Deg
Dan saat itu juga rasanya jantung Hyo Joo berhenti berdetak, Lee Donghae, jadi Donghae, –sahabatnya yang mendonorkan kornea mata untuknya. Tak dapat dibendung lagi, air mata Hyo Joo mendadak mengalir membanjiri pipinya, hatinya sakit saat mengetahui bahwa Donghaelah yang telah mendonorkan mata untuknya. Wanita tidak tahu diri, nampaknya julukan itu pantas disandangnya.
Hyo Joo berlari dengan cepat kembali kekamarnya, membuka pintu kamarnya kasar lalu menjatuhkan dirinya dilantai yang dingin, menangisi kenyataan yang telah merenggut Donghae, -sahabat terbaiknya.
“Hyo Joo-ah, kenapa menangis?” tanya Siwon saat menemukan Hyo Joo terduduk sambil menangis.
“oppa… benarkah, Donghae yang mendonorkan mata untukku?” tanya Hyo Joo dengan linangan air mata di wajahnya.
“da-dari mana kau tahu?” tanya Siwon tak percaya, rahasia yang disimpannya rapat-rapat kini terbongkar.
“Jadi benar? Oppa… kenapa semua ini harus terjadi?” tanya Hyo Joo, Siwon memeluk Hyo Joo yang kini semakin larut dalam tanginya, mengusap lembut punggung wanita yang dicintainya, menyesali kebodohannya, kalau saja waktu itu ia tidak meragukan cinta Hyo Joo untuknya mungkin saat ini Hyo Joo dan Donghae masih ada di sisinya, tertawa bahagia seperti dulu saat mereka masih bersama.
“Maaf.. maafkan aku… ini semua salahku…” bisik Siwon, ia ikut menangis bersama Hyo Joo, kini hanya ada penyesalan dalam hatinya.
*****
_2 years letter
“Oppa… kau mau membawaku kemana?” tanya Hyo Joo dengan mata tertutup kain.
“Ketempat yang akan membuatmu bahagia…” ucap Siwon sambil tersenyum pada Hyo Joo, ia kembali focus pada jalan di depannya.
“Hmm.. baiklah..” jawab Hyo Joo.
Siwon memarkirkan mobilnya pada sebuah café kecil dipinggiran kota seoul dan menggenggam tangan Hyo Joo untuk mengikutinya, mereka berdua duduk di salah satu meja yang telah dipesan Siwon terlebih dahulu.
“oppa, apa sekarang aku boleh membuka penutup mataku?” tanya Hyo Joo tak sabar.
“Nanti, sabarlah sedikit..”
“ishh menyebalkan.. oppa.. siapa yang sedang bernyanyi? Suaranya bagus…” tanya Hyo Joo penasaran.
“Apa kau masih ingat suara ini?” tanya Siwon membuat Hyo Joo kembali mengingat-ingat, suaranya sangat familiar ditelinganya namun ia tak yakin.
“o-oppa… i-ini… suara ini… suara Donghae” Jawab Hyo Joo, tanpa ijin dari Siwon ia membuka penutup matanya dan melihat kearah penyanyi yang tengah memperdengarkan suara indahnya.
“Aku tak salah lihatkan?” tanya Hyo Joo dengan mata berkaca-kaca.
“Dia memang Donghae, Donghae masih hidup, suatu keajaiban, Donghae hidup kembali setelah melakukan operasi pada matanya setelah dinyatakan meninggal karena kecelakaan waktu itu, Donghae mati suri… tapi… kini ia tidak bisa melihat karena kornea matanya ada padamu” jelas Siwon membuat Hyo Joo menangis sambil menatap sedih pria yang sedang bernyanyi dengan kaca mata hitamnya. Hyo Joo mendekap mulutnyanya ketika melihat Donghae berjalan dengan tongkat, harusnya ia yang ada diposisi Donghae saat ini. Harusnya ia yang kini merasakan gelapnya dunia bukan Donghae.
Hyo Joo berlari kearah Donghae yang sudah turun dari panggung, tanpa basa basi Hyo Joo segera memeluk tubuh Donghae, melepas rindu yang memebelenggunya.
“Oppa… ini aku… Hyo Joo… maafkan aku…” aku Hyo Joo sambil meraih tangan Donghae seperti apa yang dilakukan Donghae saat ia kehilangan penglihatannya.
“Hyo Joo? Benarkah?” tanya Donghae tak percaya.
“Ya.. aku Han Hyo Joo oppa…” ucap Hyo Joo sambil membawa tangan Donghae untuk meraba wajahnya.
“Hyo Joo-ah, kau menangis…”
“Bodoh.. kau bodoh oppa… kenapa melakukan hal bodoh seperti ku.. kenapa pergi meninggalkanku? Kenapa oppa? Kau…”
“aku bahagia kau bisa melihat, dengan mataku kau bisa melihat kembali..” ucap Donghae dengan seulas senyum tulus dibibirnya.
“apa Siwon bersamamu?” tanya Donghae lagi.
“Ya, dia ada disana…”
“Pergilah, aku ingin kau bahagia dengan pria yang kau cintai…” ucap Donghae sambil melepas pelukan Hyo Joo dan kembali meraba-raba jalan dengan tongkatnya. Hyo Joo menangis melihat Donghae tampak menyedihkan karena nya.
“Pria yang kucintai itu KAU oppa…” teriak Hyo Joo, Donghae yang mendengarnya seketika menghentikan langkahnya, terdiam, tak bergeming dari tempatnya.
“Aku mencintaimu oppa.. Aku ingin menjadi matahari dalam hidupmu, menjadi petunjuk jalanmu, menjadi penerang dalam gelap duniamu… aku mencintaimu… maaf karena terlambat untuk menyadarinya….”
“Han Hyo Joo…”
“aku bersedia oppa.. aku bersedia mendampingi Lee Donghae dalam suka dan duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut menjemputku..” ucap Hyo Joo menirukan perkataan Donghae dibutik waktu itu.
Donghae terdiam cukup lama, memikirkan jawaban apa yang harus diberikan untuk Hyo Joo, selama ini tak ada wanita lain dihati dan pikirannya, hatinya masih terisi penuh oleh Hyo Joo dan cinta untuknya. Jujur ia masih sangat mencintainya.
“Han Hyo Joo aku juga mencintaimu..” ucap Donghae akhirnya, Hyo Joo yang mendengarnya langsung memeluk erat Donghae, tak ingin kehilangan orang yang dicintainya untuk yang kedua kalinya.
Siwon tersenyum melihat kedua orang yang sangat penting dalam hidupnya bahagia, kadang seseorang harus berkorban demi kebahagiaan orang lain, dan justru pengorbanannya itulah yang menjadi sumber kebahagiaannya. Meski getir kesedihan harus ia telan, namun pemandangan didepannya cukup untuk menghapus luka dihatinya.
*****
“Han Hyo Joo, bersediakah kau mendampingi Lee Donghae dalam suka dan duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut menjemputku?” ucap pria didepan Hyo Joo, namun pria itu bukan Donghae melainkan pendeta yang menikahkan Hyo Joo dan Donghae.
“Ya aku bersedia…” ucap Hyo Joo mantap, seulas senyum mengembang dari bibirnya, ia menoleh pada pria disampingnya yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Lee Donghae lalu menyematkan sebuah cincin dijari manis Hyo Joo, begitu pula sebaliknya, Hyo Joo pun menyematkan sebuah cincin dijari Donghae.
Mereka tersenyum cukup lama, berbagi kebahagiaan lewat tatapan mata. Donghae mendekat dan membisikan sebuah kata dengan berjuta rasa bagi pendengarnya, sebuah kata “aku mencintaimu” dari dalam lubuk hatinya. Donghae mencium bibir Hyo Joo lembut dan kembali tersenyum saat mendengar riuh tepuk tangan dari bangku hadirin yang menyaksikan upacara sakral bernama pernikahan.
Dan inilah akhirnya, sebuah kebahagiaan buah dari segala penantian, kesabaran dan pengorbanan cinta. Karena cinta bukan hanya sekedar kata belaka, namun perlu pengorbanan untuk meraihnya.
_THE END_
cr :http://www.facebook.com/notes/we-are-love-couple-yewookeunhaekyumin-forever/ff-endless-love-oneshoot/358704354157961?comment_id=4877133
Endless love
Author : MISSery
Cast:
Lee Donghae
Han Hyo Joo
Choi Siwon
Genre: sad-romance-happy end *genre apa ini? :D
Annyeonghaseo…. ^^
Maaf ya kalo ff nya bikin ngantuk :D
Siapkan tissue, buat ngelap ingus… hehehe… :D
Eh inget ya ini happy end.. jadi jangan galau duluan… dibaca sampe abis ya reader sayang, soalnya FF kali ini panjang banget kaya kereta… ^^
HEYYYY YANG HABIS BACA, JANGAN KABUR… KOMENN DULU YA… ^^
Tirai besar disibakan dan munculah seorang wanita dengan gaun pengantin berwarna putih, Cantik, itulah kata pertama yang terlintas di otakku. Aku tersenyum kala wanita itu memutar-mutar tubuhnya hingga gaun panjangnya ikut bergerak-gerak mengikuti pemakainya.
Aku tertegun, kehabisan kata melihat wanita itu terlihat seribu kali lipat terlihat lebih cantik dengan gaun pengantinnya. Seandainya saja akulah mempelai pria untuknya…
“Donghae… Donghae…” wanita itu menyadarkanku dari lamunan, ia mengibas-ngibaskan telapak tangannya tepat di wajahku.
“Bagaimana?” Tanyanya sambil memutar-mutar tubuhnya didepan kaca besar.
“Ehmmm… bagaimana ya…” ucapku sengaja menggantung kalimatku, ia menunggu kalimatku penuh harap, tentu saja tak perlu ditanya lagi kau terlihat cantik, batinku.
“Kau, terlihat… biasa saja..” ucapku menggodanya, ia tampak kecewa mendengar pendapatku. Ya wanita didepanku terlihat biasa saja, karena biasanya ia terlihat cantik.
“Ahh.. menyebalkan” ia memukul lenganku pelan.
“Ahhhss……..…” aku pura-pura meringis kesakitan, hanya untuk menggodanya.
“Donghae, aku tidak mau pakai gaun ini” ucapnya sambil menatap sebal pada gaun yang dipakainya.
“Hahaha… Hyo Joo-ah, aku hanya bercanda, kau… terlihat sangat sangat cantik..” bisikku di telinganya, membuatnya bersemu merah saat mendengarnya. Lagi-lagi Hyo Joo memukul lenganku karena berhasil menjahilinya.
“Ya… kau.. menyebalkan Lee Donghae” ucap Hyo Joo, ia kembali menatap dirinya di cermin, lalu tersenyum.
“Ya.. kau sudah gila, tersenyum sendiri seperti itu” ejekku, sambil memperhatikan Hyo Joo yang masih tersenyum-senyum sendiri.
“Tidak, aku hanya sedang membayangkan, saat berjalan dialtar dengan gaun ini, ahh… apa Siwon oppa akan suka dengan gaun ini?” tanya Hyo Joo.
“Tentu saja, ia pasti suka” lirihku. Rasanya sangat sakit saat mengucapkannya.
Hyo Joo masih memandangi dirinya di cermin, dan aku hanya bisa tersenyum hambar melihatnya sebentar lagi akan jadi istri orang.
Ya, Han Hyo Joo, aku dan Siwon adalah sahabat dekat, berbagi suka dan duka bersama hingga jatuh cinta pun pada orang yang sama, aku mencintai Hyo Joo jauh sebelum Siwon menyukai Hyo Joo, namun apalah daya jika yang dicintai Hyo Joo bukan aku, tapi Siwon.
Seminggu lagi adalah hari pernikahan mereka, dan aku, entahlah bagaimana menggambarkan perasaanku saat ini. Ingin sekali mengatakan perasaanku yang sebenarnya tapi apakah dengan begitu Hyo Joo akan membatalkan pernikahannya? Aku tak tahu.
Aku berdiri disamping Hyo Joo, membiarkan bayangan kami tertangkap kaca besar itu, aku tersenyum menatap pantulan bayangan kami dicermin, kemudian membayangkan kami berjalan di altar, lalu mengucapkan sumpah janji di hadapan Tuhan.
“Han Hyo Joo… bersediakah kau mendampingi Lee Donghae dalam suka dan duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut menjemputmu?” tanyaku dengan wajah serius.
“Ya,, aku bersedia” ucapnya mantap, lalu Hyo Joo tertawa lepas setelah mengucapkannya, aku menatap matanya, hingga ia berhenti tertawa.
“Ahh.. maaf..” Hyo Joo menutup mulutnya menahan tawa, aku meraih tangannya saat Hyo Joo hendak meninggalkanku. Aku mensejajarkan tubuhku dengannya, menyuruhnya menatap kaca besar itu.
“Kita serasi ya?” tanyaku sambil menatap kaca itu, aku dengan setelan jas hitam dan Hyo Joo dengan gaun pengantinnya.
“Donghae, jangan bercanda” ucapnya sambil menepis tanganku. Hyo Joo berjalan lalu membelakangiku, hingga aku tak dapat melihat wajahnya.
“Aku tidak bercanda! Han Hyo Joo, apa selama ini yang kau pikirkan hanya Siwon? Apa sedikitpun tidak ada aku difikiranmu?”
“Donghae.. aku tidak mengerti, jangan bercanda..” ucapnya kesal, aku berbalik dan meraih wajahnya agar menatapku.
“Apa aku terlihat sedang bercanda?” tanyaku lagi, Hyo Joo menatap mataku mencari kesungguhan didalamnya.
“Maaf, aku harus ganti baju, sebentar lagi Siwon menjemputku” Hyo Joo menepis tanganku lalu mencoba berjalan pergi, namun aku segera memeluknya, tak mau ia pergi, setidaknya untuk saat ini.
“Donghae, lepaskan” Hyo Joo meronta minta dilepaskan, tapi aku bersikeras memeluknya, dan semakin mengeratkan pelukanku.
“Han Hyo Joo, dengarkan aku… Aku mencintaimu.. sangat mencintaimu…” ucapku akhirnya, kata yang telah bertahun-tahun lamanya aku pendam, hari ini akhirnya bisa aku ungkapkan.
Hyo Joo membeku mendengar ungkapan cintaku barusan, ia menatapku tak percaya. Mataku tiba-tiba menangkap sosok Siwon yang tengah berjalan mendekat, semakin dekat dan tiba-tiba ide gila itu muncul diotakku.
Aku meraih wajah Hyo Joo dengan tanganku mendekapnya dan mendekatkannya padaku, lalu aku memiringkan kepalaku. Lalu melepaskannya beberapa saat kemudian, Hyo Joo tampak kaget dengan apa yang barusan aku lakukan, aku mengusap bibirnya pelan dengan ujung jariku seolah-olah kami habis berciuman. Aku menatap Siwon yang tampak terkejut dengan adegan yang baru saja aku mainkan. Hyo Joo menelusuri pandangan mataku lalu terkejut begitu mendapati Siwonnya tengah berdiri kaku dengan tangan yang mengepal.
“Si-Siwon o-oppa….” Lirih Hyo Joo, tak sanggup menyebut namanya.
“Ternyata seperti inikah kau dibelakangku?” tanyanya dengan suara yang bergetar menahan marah.
“Aku bisa menjelaskannya.. sungguh oppa… ini tidak seperti yang kau bayangkan…” Hyo Joo menitikan air matanya, ia mendekat kearah Siwon ragu-ragu.
“Hyo Joo, aku tidak bisa memaafkanmu… aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita” ucap Siwon, perkataannya membuat Hyo Joo seperti seorang tahanan yang di vonis hukuman mati, tubuh Hyo Joo bergetar seiring dengan tangis yang kian merebak.
“Oppa.. aku mohon dengarkan dulu..” pinta Hyo Joo sambil meraih tangan Siwon, namun buru-buru Siwon menepisnya, lalu pergi meninggalkan Hyo Joo yang berteriak histeris memanggil namanya, dan aku terpaku melihat Hyo Joo kini menangis meraung meminta Siwon-nya kembali padanya.
Haruskah aku tersenyum saat ini? Keinginanku kini menjadi kenyataan, tapi melihat Hyo Joo seperti itu hatiku terasa sakit berkali-kali lipat.
“Han Hyo Joo, maafkan aku…” bisikku.
******
Sejak kejadian di butik itu, aku tidak pernah lagi bertemu Hyo Joo. Walau rumah Hyo Joo tepat bersebelahan dengan rumahku, namun aku tak pernah melihatnya karena ia tak pernah lagi keluar dari rumahnya sejak saat itu. Aku khawatir dengan kondisi Hyo Joo hingga setiap hari aku mendatangi rumahnya, dan setiap hari pula Hyo Joo menolak bertemu denganku. Kata ibunya, Hyo Joo terus-terusan mengurung dirinya dikamar dan tidak mau makan. Sungguh saat itu juga aku ingin mengulang kebodohanku dan memperbaikinya, malaikatku, Han Hyo Joo, saat ini kehilangan sayapnya.
*****
Hari ini seharusnya adalah hari pernikahannya, tapi Siwon sudah membatalkan pernikahan mereka. Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Hyo Joo hari ini. Aku melangkahkan kakiku, membuka pintu menuju balkon kamarku, yang berhadapan langsung dengan balkon kamar Hyo Joo, dari sini aku selalu memperhatikan Hyo Joo, mendengarkan suara tangisnya setiap malam, mengintipnya yang sedang menatap sedih pada baju pengantin yang ia pajang di manenequinnya. Tapi hari ini jendela besar itu tertutup rapat, dan tiba-tiba suara pintu yang diketuk kasar menggangguku. Aku melepas pandanganku dari kamar Hyo Joo dan beralih membukakan pintu dan betapa terkejutnya aku, ketika Hyo Joo kini ada dihadapanku, lengkap dengan baju pengantinnya.
“Hyo Joo….” panggilku, aku langsung menghambur kedalam pelukannya, meluapkan rasa rinduku padanya. Ia melepas pelukanku lalu menatapku dengan tatapan memohon.
“Donghae, bisa kau antarkan aku, aku mohon…”
“Hyo Joo, tapi Siwon dan kau…”
“Aku mohon, sekali ini saja…” pintanya, dengan mata berkaca-kaca, Hyo Joo menahan tangisnya hingga aku tak sanggup melihatnya seperti itu. Kuambil kunci mobil diatas meja dan kupakai jas hitamku lalu pergi bersamanya.
Selama di perjalanan, Hyo Joo hanya diam menatap jalan, sesekali aku memperhatikannya sedang mengusap habis air matanya. Sakit sekali melihatnya seperti ini, hingga tanpa sengaja air mataku ikut mengalir tanpa ijin. “Han Hyo Joo maafkan aku” bisikku.
*****
Hyo Joo dan aku kini telah sampai di gereja tempat Hyo Joo dan yooochun seharusnya melangsungkan pernikahannya. Hyo Joo segera masuk dan duduk disalah satu kursi panjang yang berderet rapi. Ia mengambil ponselnya dan menelepon sesorang.
“Oppa… Tunggu jangan dimatikan.. biarkan aku bicara..” ucapnya tergesa-gesa, Hyo Joo mengatur emosinya lalu kembali bicara “Oppa.. sekarang aku ada digereja tempat kita akan menikah, aku menunggumu oppa.. aku mencintaimu… sangat mencintaimu.. hiks.. hikss… hikss…” Hyo Joo kembali membiarkan air matanya menetes membasahi pipinya, ponsel ditangannya dibiarkan jatuh, dan yang terdengar kini hanya isak tangisnya yang memilukan.
*****
Sudah 4 jam aku dan Hyo Joo menunggu disini, Hyo Joo masih memandang pintu masuk dengan tatapan penuh harap, berkali kali ia menatap layar ponselnya berharap Siwon meneleponnya.
“Nona, kapan mempelai prianya datang? maaf saya ada urusan” ucap pak pendeta yang dari tadi duduk diam menunggu bersama kami.
“Se-sebentar lagi..” ucap Hyo Joo, ia kembali mengeluarkan air matanya “A-aku mohon… jangan pergi, tunggu sebentar lagi, yooochun oppa pasti datang” pintanya dengan suara bergetar, menahan tangisnya yang siap merebak.
“Maaf nona, tapi saya benar-benar harus pergi” ucap pendeta itu, lalu membungkuk meminta maaf dan meninggalkan gereja ini.
Air mata tak dapat lagi Hyo Joo tahan, ia menangis semakin lama semakin keras, meremas kasar gaun pengantinnya, lalu membanting ponselnya hingga pecah berkeping-keping. Aku berjalan mendekat lalu berjongkok dihadapannya.
“Hyo Joo-ah..” ucapku dengan suara tercekat “maaf.. maafkan aku…” tetes demi tetes air mata terjatuh dengan lancangnya, aku tak kuasa melihat wanita yang amat kucintai menangis seperti ini, hanya ucapan maaf yang terus terlontar dari bibirku. “Han Hyo Joo, maafkan aku…”
*****
Jam sudah menunjukan pukul 18.45 dan Hyo Joo masih dengan setia menunggu Siwon, riasan wajahnya kini tidak berbentuk, matanya sembab karena terlalu banyak menangis dan entah bagaimana lagi mendeskripsikan penampilan Hyo Joo saat ini.
“Hyo Joo-ah” panggilku, hati-hati aku duduk disampingnya lalu menggenggam tangannya “Ayo pulang” ajakku.
“Sebentar lagi, Siwon pasti datang” Hyo Joo bersikeras memintaku untuk menunggu, tapi aku tahu Siwon tak akan datang.
“Hyo Joo-ah, dengarkan aku.. Siwon tak akan datang, percayalah” ucapku sambil menangkup wajahnya dengan tanganku agar ia mau menatapku.
“Donghae.. dia pasti datang.. hiks..hiks..hikss….” lagi-lagi Hyo Joo menangis, entah sudah berapa banyak air mata keluar dari matanya, aku memeluknya, menenangkannya.
“Ayo sekarang kita pulang” ucapku ketika Hyo Joo terlihat lebih tenang. Dan keajaiban datang, Hyo Joo berdiri dari duduknya lalu mengikutiku berjalan.
“Donghae, bolehkah.. bolehkan aku yang menyetir?” tanyanya dengan nada memohon.
“Baiklah” ucapku tanpa pikir panjang, aku menyerahkan kunci mobilku padanya, lalu berjalan menuju pintu penumpang. Tapi belum sempat aku membuka pintu itu, Hyo Joo sudah menjalankan mobilku dan melaju dengan sangat cepat.
“HAN HYO JOO…..….” Teriakku sambil berlari mengejar mobilku, namun percuma lariku tak sebanding dengan kecepatan mobilku.
*****
Hyo Joo terus melajukan mobil Donghae dengan cepat, yang ada di pikirannya saat ini adalah kematian. Ya, Hyo Joo ingin mengakhiri hidupnya, baginya tak ada gunanya lagi ia hidup jika pria yang amat di cintainya tak ada lagi di sisinya. Bodoh memang, tapi itulah cinta.
Hyo Joo memejamkan matanya ketika sebuah truk besar melintas didepannya, ia membanting kemudinya dan menabrakan mobil Donghae ke mobil truk tersebut. Dan kecelakaan tak dapat di elakkan lagi, mobil yang Hyo Joo kendarai terpelanting jauh ke sisi jalan.
Hyo Joo mengerang kesakitan dan perlahan kesadarannya memudar “Siwon oppa… saranghae..” lirihnya sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
*****
Sudah seminggu Hyo Joo dirawat di rumah sakit dan mengalami koma, namun Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup, hingga 2hari yang lalu Hyo Joo sadar dari komanya.
“Hyo Joo-ah, ayo makan.. kau harus makan..” pinta Donghae sambil mendekatkan sendok yamg berisi bubur kedekat mulut Hyo Joo. Sejak kecelakaan itu Donghae tak pernah sedetikpun meninggalkan Hyo Joo, ia lah orang yang menjaga Hyo Joo selama dirumah sakit.
“Aku kenyang” bisiknya hingga nyaris tak terdengar.
“Satu suap lagi, ya?” Donghae tetap mencoba membujuk Hyo Joo, namun Hyo Joo tak bergeming.
“Donghae, sampai kapan mataku diperban?” tanya Hyo Joo.
“Sebentar lagi dokter akan kemari dan membuka perbanmu” ucap Donghae.
Cklek
“Annyeonghaseo, nona Han” sapa dokter yang menangani Hyo Joo.
“Annyeonghaseo” balas Hyo Joo dan Donghae.
“Nahh.. sekarang kita bisa buka perban dimatamu” ucap sang dokter lalu mendekat ke tempat tidur Hyo Joo. Dengan perlahan dokter itu membuka perban yang meliliti mata Hyo Joo.
“Sekarang kau bisa buka matamu perlahan” ucap sang dokter menginstruksi.
Hyo Joo membuka matanya perlahan sesuai dengan apa yang dikatakan dokter itu. Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan.
“Hyo Joo, bagaimana?” tanya Donghae khawatir akan perubahan raut wajah Hyo Joo.
“A-aku… kenapa gelap? Aku tidak bisa melihat?” ucap Hyo Joo panic, tangannya mulai meraba-raba sekitarnya, Donghae segera menangkap tangan Hyo Joo.
“Aku disini jangan takut..” ucap Donghae menenangkan.
“Donghae.. aku tidak bisa melihat.. aku takut.. aku takut…” Hyo Joo mulai menitikan air matanya. Semakin lama semakin deras.
“Dokter ada apa dengan mata Hyo Joo?” tanya Donghae berusaha untuk tenang.
“Nona han bisa saja mengalami kebutaan, itu karena pecahan kaca yang mengenai kornea matanya” ucap sang dokter dengan hipotesisnya.
“Tidak… tidak…. AKU TIDAK MAU BUTA…………….” Teriak Hyo Joo histeris, Hyo Joo semakin kencang menangis, ia tak sanggup menerima kenyataan bahwa ia buta.
Donghae yang mendengar tangis memilukan Hyo Joo hanya bisa menatap iba pada wanita yang amat dicintainya dan kini perasaan bersalah semakin besar ia tanggung karena perbuatannya.
****
Sudah seminggu sejak Hyo Joo dinyatakan mengalami kebutaan dan sejak saat itu pula Donghae tak pernah lagi bertemu Hyo Joo, setiap Donghae datang untuk menjenguknya, Hyo Joo akan mengusirnya, melempar barang-barang yang ada didekatnya ataupun berteriak dan menangis histeris. Donghae tak sanggup lagi melihat Hyo Joo seperti itu, terpuruk dalam gelap dunianya.
Hingga akhirnya Donghae mendatangi Dokter yang menangani Hyo Joo, ia ingin mendonorkan kornea matanya untuk Hyo Joo, agar Hyo Joo dapat melihat lagi. Namun Dokter tak dapat mengabulkan permintaan Donghae, hanya orang yang meninggal saja yang bisa mendonorkan kornea matanya.
*****
“Han Hyo Joo maafkan aku…” lirih Donghae di depan tubuh Hyo Joo yang tengah terlelap, hanya dengan cara ini Donghae dapat menemui Hyo Joo. Donghae mengusap lembut rambut panjang Hyo Joo lalu mengecup keningnya.
“aku mencintaimu… Tunggu sebentar lagi, aku akan membawa Siwon kembali dan donor kornea mata untukmu” ucap Donghae, ia memandangi wajah Hyo Joo cukup lama, setelah puas, Donghae meninggalkan kamar Hyo Joo dan berjalan ke area parkiran.
****
Ting tong Ting tong
Donghae memencet bel rumah Siwon berkali-kali hingga orang yang di tuju membukakan pintu.
“Mau apa kau kemari?” tanya Siwon dingin.
“menjelaskan sesuatu padamu” balas Donghae.
“Kalau itu ada hubungannya dengan hubunganmu dengan wanita itu lebih baik pergi sekarang juga” ucap Siwon masih dengan sikap dinginnya.
“Kenapa tidak ke rumah sakit? Kau tidak peduli Hyo Joo sekarang sedang sakit?” tanya Donghae.
“Aku tidak peduli… Donghae-ah, aku mohon jangan bahas Hyo Joo lagi, dan aku mohon sekarang juga kau pergilah…” pinta Siwon sambil menutup pintunya, namun sebelum Siwon berhasil menutup pintu Donghae segera menahannya.
“HYO JOO BUTA….” Teriak Donghae, membuat Siwon membuka kembali pintunya.
“A-apa? Jangan bercanda Lee Donghae”
“Apa aku terlihat sedang bercanda? Hyo Joo buta dan ia membutuhkanmu, dan masalah dibutik waktu itu, aku tidak menciumnya! Hhh… aku memang sudah lama mencintainya, tapi Hyo Joo hanya mencintaimu.. kau harus percaya aku… Hyo Joo hanya mencintaimu…! Aku berharap dengan batalnya pernikahanmu, Hyo Joo bisa berpaling darimu. Tapi nyatanya Hyo Joo nekat bunuh diri dan kecelakaan itu mengakibatnya ia harus kehilangan penglihatannya, apa kau masih ragu bahwa Hyo Joo mencintaimu?” tanya Donghae, kata-kata Donghae barusan membuat Siwon tersadar bahwa ia telah salah menilai Hyo Joo, Hyo Joo hanya mencintainya bukan Donghae atau pria lainnya.
“Aku harap kau menemuinya dan kembalilah padanya” pinta Donghae, Donghae meninggalkan Siwon yang berdiri mematung ditempatnya. Donghae kembali menyalakan mesin mobilnya dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimum.
“Dan inilah saatnya, hal terakhir yang bisa kulakukan untuk Hyo Joo” Donghae melajukan mobilnya semakin cepat lalu dengan kecepatan tinggi Donghae menabrakan mobilnya pada pembatas jalan hingga mobil bagian depannya remuk tak berbentuk dan Donghae terpelanting keluar dari mobilnya. Darah segar mengalir dari kepala dan beberapa bagian tubuhnya, “Han Hyo Joo a-aku m-men-cin-taimu….” Ucapnya, hingga akhirnya Donghae kehilangan kesadarannya.
*****
_Two weeks letter
“Nona Hyo Joo silahkan buka matanya perlahan” ucap Dokter Jung pada Hyo Joo setelah suster membuka lilitan perban di mata Hyo Joo. Dikamar itu semua berkumpul, ada orang tua Hyo Joo dan ada Siwon, namun tanpa kehadiran Donghae.
“Bagaimana nona Han” tanya Dokter Jung. Hyo Joo hanya diam sambil menangis, mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya.
“A-aku……”
“bagaimana Hyo Joo-ah” kali ini Siwon angkat bicara, wajahnya panic karena Hyo Joo terus menangis.
“A-aku…. Aku bisa melihat lagi…” ucap Hyo Joo dengan air mata bahagianya.
“syukurlah” ucap dokter yang menangani Hyo Joo. Orang tua Hyo Joo pun segera memeluk putri semata wayangnya dan Siwon kini dapat bernafas lega.
“Terimakasih dokter, terimakasih eomma appa, dan terimakasih.. oppa…” ucap Hyo Joo sambil memeluk Siwon-nya.
*******
“eomma.. appa… sebenarnya siapa yang mendonorkan kornea matanya padaku.. ayo beri tahu aku, aku hanya ingin berterimaksih pada keluarganya” tanya Hyo Joo penasaran. Sudah berulang kali Hyo Joo menanyakan hal yang sama tentang siapa yang telah mendonorkan kornea mata untuknya namun tak ada jawaban dari orang tuanya, dokter, suster ataupun Siwon.
“Sudahlah jangan dipikirkan, orang yang mendonorkan konea mata padamu tak ingin kau mengetahuinya, Hyo Joo.. eomma dan appa harus segera ke kantor, sebentar lagi Siwon kemari, jaga dirimu sayang” ucap ibu Hyo Joo lalu mengecup kening putrinya dan berjalan meninggalkan Hyo Joo dikamar rawatnya.
“Aishh… bosan… aku ingin jalan-jalan” ucap Hyo Joo, tanpa pikir panjang Hyo Joo segera meninggalkan kamar rawatnya dan berjalan-jalan.
Hyo Joo duduk di salah bangku taman rumah sakit, ia menikmati semilir angin yang membelai wajahnya. Saat ini rasanya hidupnya terasa lengkap, ia bisa kembali melihat, dan hidupnya selalu dikelilingi orang-orang yang menyayanginya, ada orang tuanya terlebih ada Siwon, pria yang sangat dicintainya. Namun ada yang mengganjal hatinya, Donghae, –sahabatnya, tak pernah lagi mengunjunginya hampir 3 minggu lamanya. Ia merindukannya, baginya bukan Donghae penyebab kecelakan maupun kebutaan yang pernah dialaminya.
“Kau tahu tidak tentang pria tampan yang meninggal dua minggu yang lalu?” tanya seorang suster yang sedang berbincang-bincang di bangku taman yang letaknya tak jauh dari Hyo Joo.
“iya, pria tampan itu menyedihkan sekali, kudengar ia menabrakkan mobilnya pada pembatas jalan, agar ia bisa mati dan mendonorkan matanya untuk seorang pasien wanita yang dirawat disini” jawab suster satunya.
“Ahh… Dia benar-benar Pria yang baik, padahal sebelum kematiannya nya ia terus-terusan mengunjungi wanita tak tahu diri itu, walaupun wanita itu tak mengijinkannya masuk kekamar rawatnya tapi pria itu setiap hari masih mengunjunginya.. benar-benar wanita tidak tahu diri”
“kau tahu siapa namanya?” tanya suster itu penasaran
“kalau tidak salah.. namanya.. lee.. lee dong.. ahh aku ingat, namanya Lee Donghae”
Deg
Dan saat itu juga rasanya jantung Hyo Joo berhenti berdetak, Lee Donghae, jadi Donghae, –sahabatnya yang mendonorkan kornea mata untuknya. Tak dapat dibendung lagi, air mata Hyo Joo mendadak mengalir membanjiri pipinya, hatinya sakit saat mengetahui bahwa Donghaelah yang telah mendonorkan mata untuknya. Wanita tidak tahu diri, nampaknya julukan itu pantas disandangnya.
Hyo Joo berlari dengan cepat kembali kekamarnya, membuka pintu kamarnya kasar lalu menjatuhkan dirinya dilantai yang dingin, menangisi kenyataan yang telah merenggut Donghae, -sahabat terbaiknya.
“Hyo Joo-ah, kenapa menangis?” tanya Siwon saat menemukan Hyo Joo terduduk sambil menangis.
“oppa… benarkah, Donghae yang mendonorkan mata untukku?” tanya Hyo Joo dengan linangan air mata di wajahnya.
“da-dari mana kau tahu?” tanya Siwon tak percaya, rahasia yang disimpannya rapat-rapat kini terbongkar.
“Jadi benar? Oppa… kenapa semua ini harus terjadi?” tanya Hyo Joo, Siwon memeluk Hyo Joo yang kini semakin larut dalam tanginya, mengusap lembut punggung wanita yang dicintainya, menyesali kebodohannya, kalau saja waktu itu ia tidak meragukan cinta Hyo Joo untuknya mungkin saat ini Hyo Joo dan Donghae masih ada di sisinya, tertawa bahagia seperti dulu saat mereka masih bersama.
“Maaf.. maafkan aku… ini semua salahku…” bisik Siwon, ia ikut menangis bersama Hyo Joo, kini hanya ada penyesalan dalam hatinya.
*****
_2 years letter
“Oppa… kau mau membawaku kemana?” tanya Hyo Joo dengan mata tertutup kain.
“Ketempat yang akan membuatmu bahagia…” ucap Siwon sambil tersenyum pada Hyo Joo, ia kembali focus pada jalan di depannya.
“Hmm.. baiklah..” jawab Hyo Joo.
Siwon memarkirkan mobilnya pada sebuah café kecil dipinggiran kota seoul dan menggenggam tangan Hyo Joo untuk mengikutinya, mereka berdua duduk di salah satu meja yang telah dipesan Siwon terlebih dahulu.
“oppa, apa sekarang aku boleh membuka penutup mataku?” tanya Hyo Joo tak sabar.
“Nanti, sabarlah sedikit..”
“ishh menyebalkan.. oppa.. siapa yang sedang bernyanyi? Suaranya bagus…” tanya Hyo Joo penasaran.
“Apa kau masih ingat suara ini?” tanya Siwon membuat Hyo Joo kembali mengingat-ingat, suaranya sangat familiar ditelinganya namun ia tak yakin.
“o-oppa… i-ini… suara ini… suara Donghae” Jawab Hyo Joo, tanpa ijin dari Siwon ia membuka penutup matanya dan melihat kearah penyanyi yang tengah memperdengarkan suara indahnya.
“Aku tak salah lihatkan?” tanya Hyo Joo dengan mata berkaca-kaca.
“Dia memang Donghae, Donghae masih hidup, suatu keajaiban, Donghae hidup kembali setelah melakukan operasi pada matanya setelah dinyatakan meninggal karena kecelakaan waktu itu, Donghae mati suri… tapi… kini ia tidak bisa melihat karena kornea matanya ada padamu” jelas Siwon membuat Hyo Joo menangis sambil menatap sedih pria yang sedang bernyanyi dengan kaca mata hitamnya. Hyo Joo mendekap mulutnyanya ketika melihat Donghae berjalan dengan tongkat, harusnya ia yang ada diposisi Donghae saat ini. Harusnya ia yang kini merasakan gelapnya dunia bukan Donghae.
Hyo Joo berlari kearah Donghae yang sudah turun dari panggung, tanpa basa basi Hyo Joo segera memeluk tubuh Donghae, melepas rindu yang memebelenggunya.
“Oppa… ini aku… Hyo Joo… maafkan aku…” aku Hyo Joo sambil meraih tangan Donghae seperti apa yang dilakukan Donghae saat ia kehilangan penglihatannya.
“Hyo Joo? Benarkah?” tanya Donghae tak percaya.
“Ya.. aku Han Hyo Joo oppa…” ucap Hyo Joo sambil membawa tangan Donghae untuk meraba wajahnya.
“Hyo Joo-ah, kau menangis…”
“Bodoh.. kau bodoh oppa… kenapa melakukan hal bodoh seperti ku.. kenapa pergi meninggalkanku? Kenapa oppa? Kau…”
“aku bahagia kau bisa melihat, dengan mataku kau bisa melihat kembali..” ucap Donghae dengan seulas senyum tulus dibibirnya.
“apa Siwon bersamamu?” tanya Donghae lagi.
“Ya, dia ada disana…”
“Pergilah, aku ingin kau bahagia dengan pria yang kau cintai…” ucap Donghae sambil melepas pelukan Hyo Joo dan kembali meraba-raba jalan dengan tongkatnya. Hyo Joo menangis melihat Donghae tampak menyedihkan karena nya.
“Pria yang kucintai itu KAU oppa…” teriak Hyo Joo, Donghae yang mendengarnya seketika menghentikan langkahnya, terdiam, tak bergeming dari tempatnya.
“Aku mencintaimu oppa.. Aku ingin menjadi matahari dalam hidupmu, menjadi petunjuk jalanmu, menjadi penerang dalam gelap duniamu… aku mencintaimu… maaf karena terlambat untuk menyadarinya….”
“Han Hyo Joo…”
“aku bersedia oppa.. aku bersedia mendampingi Lee Donghae dalam suka dan duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut menjemputku..” ucap Hyo Joo menirukan perkataan Donghae dibutik waktu itu.
Donghae terdiam cukup lama, memikirkan jawaban apa yang harus diberikan untuk Hyo Joo, selama ini tak ada wanita lain dihati dan pikirannya, hatinya masih terisi penuh oleh Hyo Joo dan cinta untuknya. Jujur ia masih sangat mencintainya.
“Han Hyo Joo aku juga mencintaimu..” ucap Donghae akhirnya, Hyo Joo yang mendengarnya langsung memeluk erat Donghae, tak ingin kehilangan orang yang dicintainya untuk yang kedua kalinya.
Siwon tersenyum melihat kedua orang yang sangat penting dalam hidupnya bahagia, kadang seseorang harus berkorban demi kebahagiaan orang lain, dan justru pengorbanannya itulah yang menjadi sumber kebahagiaannya. Meski getir kesedihan harus ia telan, namun pemandangan didepannya cukup untuk menghapus luka dihatinya.
*****
“Han Hyo Joo, bersediakah kau mendampingi Lee Donghae dalam suka dan duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut menjemputku?” ucap pria didepan Hyo Joo, namun pria itu bukan Donghae melainkan pendeta yang menikahkan Hyo Joo dan Donghae.
“Ya aku bersedia…” ucap Hyo Joo mantap, seulas senyum mengembang dari bibirnya, ia menoleh pada pria disampingnya yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Lee Donghae lalu menyematkan sebuah cincin dijari manis Hyo Joo, begitu pula sebaliknya, Hyo Joo pun menyematkan sebuah cincin dijari Donghae.
Mereka tersenyum cukup lama, berbagi kebahagiaan lewat tatapan mata. Donghae mendekat dan membisikan sebuah kata dengan berjuta rasa bagi pendengarnya, sebuah kata “aku mencintaimu” dari dalam lubuk hatinya. Donghae mencium bibir Hyo Joo lembut dan kembali tersenyum saat mendengar riuh tepuk tangan dari bangku hadirin yang menyaksikan upacara sakral bernama pernikahan.
Dan inilah akhirnya, sebuah kebahagiaan buah dari segala penantian, kesabaran dan pengorbanan cinta. Karena cinta bukan hanya sekedar kata belaka, namun perlu pengorbanan untuk meraihnya.
_THE END_
cr :http://www.facebook.com/notes/we-are-love-couple-yewookeunhaekyumin-forever/ff-endless-love-oneshoot/358704354157961?comment_id=4877133
0 komentar:
Posting Komentar