Sabtu, 09 Maret 2013

Cerpen : Mentari Terakhir

Diposting oleh Unknown di 21.16
Semakin hari kegiatan Hani semakin banyak. Mengingat kini ia sudah duduk di kelas sembilan dan sebentar lagi akan menempuh ujian nasional. Setiap hari selalu pulang sore, karena sibuk les disana-sini. Hani jadi sering mimisan dan merasa sangat lemah. Seperti saat ini Hani kembali mimisan, ia berlari ke kamar mandi karena tidak ingin ibunya tahu jika Hani mimisan. Tapi karena terburu-buru Hani malah menabrak ibunya. Ibu Hani melihat darah mengalir dari hidung anaknya, seketika wajahnya berubah panik.
“Kamu kenapa Hani? Sudah berapa kali kamu mimisan nak?” Tanya ibu Hani dengan nada khawatir.
“Sudah beberapa kali Bu, tapi ini pasti karena aku terlalu lelah.” Jawab Hani agar ibunya tidak khawatir.
Namun Ibu Hani tetap khawatir dan segera mengajak Hani untuk pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Hani lalu menjalani tes darah. Hani Nampak begitu heran dengan ibunya yang terlalu berlebihan menanggapi keadaannya.
“Bu,kenapa harus tes darah segala? Aku ini tidak apa-apa Bu.” ucap Hani dengan sedikit kesal. “Tidak ada salahnya kan sayang?” Tanya Ibu. Mendengar jawaban ibuya, Hani hanya bisa diam.
Setelah beberapa hari menunggu, Ibu Hani lalu mengambil hasil laboratorium di rumah sakit. Kecemasan tergambar jelas di wajah Ibu Hani. Seorang suster menyerahkan sebuah amplop besar. Ibu Hani lalu membukanya. Tubuh Ibu Hani seketika lemas, air mata mulai membanjiri pipinya. Ia tak sanggup membayangkan jika anak semata wayangnya menderita penyakit Thalasemia Mayor. Ia berjalan dengan langkah gontai. Disepanjang jalan ia berpikir bagaimana cara untuk memberitahukan Hani bahwa Ia menderita Thalasemia Mayor.
Setiba di rumah, ibu Hani langsung diberondong pertanyaan oleh Hani.
”Ibu, bagaimana hasil laboratoriumnya? Aku tidak kenapa-kenapa kan Bu?” Tanya Hani kepada ibunya yang baru sampai.
“Kamu….kaa muuu sakit nak” ucap Ibu Hani dengan terbata. ”Sakit apa bu?” Tanya Hani.
Hani langsung mengambil amplop besar dari tangan ibunya. Ia lalu membukanya, disana tertulis bahwa ia mengidap Thalasemia Mayor.
”Thalasemia mayor itu apa Bu?” Tanya Hani. Namun Ibu Hani hanya terdiam, tak sanggup menjawab pertanyaan anaknya. ”Bu!! Kenapa diam?” tanya Hani yang mulai khawatir dengan sikap ibunya.
Karena ibunya tak juga memberi jawaban, Hani lalu berlari ke kamarnya dan segera mencari informasi di internet. Di sana tertulis “Thalasemia mayor merupakan penyakit darah serius dimana umur sel-sel darah merah amat pendek. Thalasemia merupakan penyakit darah turunan yang mematikan dan belum bisa disembuhkan. Penderitanya memerlukan transfusi darah yang dilakukan secara rutin untuk bertahan hidup” Seketika air mata Hani menetes. Pikirannya sudah melayang jauh, membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya kelak.. Tiba-tiba seseorang dengan lembut memeluknya dari belakang. Hani tahu itu adalah pelukan dari ibunya. Seketika tangisannya pecah.
“Menangislah sayang.. jika itu bisa membuatmu lebih baik.” Ucap Ibu Hani sambil megecup puncak kepala anaknya.
            “Ibu, apa Hani bisa sembuh Bu? Hani takut sekali Bu” Tanya Hani ditengah isakan tangisnya.
            “Kamu akan sembuh, kamu harus percaya pada kekuasaan Tuhan” Ucap Ibu Hani

            Semenjak hari itu, Hani hanya mengurung diri dikamarnya. Ia tidak mau berangkat sekolah, bahkan untuk sekedar makan saja Hani tidak mau.
“Hani.. Sayang, Ibu masuk ya.” Ucap Ibu Hani lalu melangkah masuk ke kamar Hani.
“Hani... makan dulu ya.” Ucap Ibu Hani dengan sabar. Tapi hanya gelengan yang diperoleh Ibu Hani. “Kenapa kamu jadi begini Hani? Seharusnya kamu semangat untuk sembuh sayang. Kamu tahu, di luar sana banyak orang yang menderita penyakit mematikan, tapi mereka terus berjuang melawan sakitnya. Kamu pun harus begitu Hani.” ucap Ibu Hani.
“Maafkan aku Ibu, aku terlalu bersedih. Ibu benar seharusnya aku berjuang untuk sembuh bukannya hanya menyesali apa yang aku derita.” jawab Hani dengan memeluk ibunya.
“Nah..ini baru Hani yang ibu kenal” kata Ibu hani sambil tersenyum.
            Hani pun setuju menjalani pengobatan dan tranfusi darah. Ini adalah hari pertama Hani menjalani transfusi darah. Ibu Hani setia mendampingi anaknya. Menggenggam tangan Hani dengan lembut agar rasa sakit yang Hani rasakan sedikit berkurang. Ibu hani sebenarnya tidak tega melihat anak kesayangannya menahan sakit, namun ia berusaha kuat agar Hani juga bisa kuat.
“Hani, untuk saat ini kamu jangan terlalu banyak les ya. Kamu tidak boleh terlalu lelah. Dua bulan lagi, kamu harus menjalani transfusi darah ” kata dokter dengan senyum yang tulus.
“Iya dokter, Hani tahu. “jawab Hani

             Keesokan harinya Hani berangkat ke sekolah. Ia tidak memberitahukan kepada teman-temannya jika ia sedang sakit. Ia berpikir, Ia masih bisa menanggung deritanya sendirian.
“Hani, lebih baik kamu tidak usah ikut olahraga dulu, kau kan baru saja sembuh” saran Lina, sahabat Hani.
“Tidak apa-apa, lagi pula olahraganya tidak terlalu berat” Jawab Hani, mengingat ia cukup senang dengan materi olahraga kali ini, yaitu bola voli. Namun, saat sedang bermain voli, Hani terkena bola di kepalanya, sehingga ia pingsan. Teman-temannya langsung membawa Hani ke UKS. Lina dan Jason dengan sabar menunggui Hani hingga sadar. Setelah beberapa menit pingsan, akhirnya Hani sadar.

“Euhhh…aku tadi kenapa?” Tanya Hani yang baru saja sadar.
 “Tadi kepala kamu kena bola. Maaf Hani, tadi aku tidak sengaja” jawab Jason dengan wajah bersalah.
”Engg… tidak apa-apa Jason, kau tak perlu merasa bersalah. Itu pasti karena aku juga yang tidak konsentrasi” Jawab Hani.
“Sekali lagi maafkan aku ya Hani” ucap Jason lagi.
“Eheemmm.. Sudahlah.. kalian berdua sama-sama salah, Oke?” ucap Lina.
Hani menyikut Lina.”Auuhh..sakit” keluh Lina.
“Kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu ya. Aku harus menyelesaikan tugas membuat cerpen.” ucap Jason.
“Iya, baiklah. Maaf karena membuatmu menunda menyelesaikan tugasmu karena aku” jawab Hani.
“Nggak masalah.” jawab Jason sambil berlalu pergi.
”Ihh.. kamu kok bilang gitu sih tadi?” Tanya Hani dengan cemberut.
“Memangnya aku salah apa?” Tanya Lina pura-pura tidak tahu.
”Kamu merusak suasana tau!!” jawab Hani kesal.
“Hehe..maaf  Hani, aku cuma bercanda. Jangan marah ya sayang.” ucap Lina menggoda sahabatnya.
”Lain kali awas ya kalau kamu begitu lagi” ucap Hani. Mereka lalu tertawa bersama.

            Beberapa bulan berlalu, kini Hani sudah menjalani transfusi darah yang kesekian kali. Yang awalnya Hani hanya menjalani transfusi darah dua bulan sekali, kini Hani harus transfusi darah setiap tiga minggu sekali. Dan itu membuat Hani kehilangan semangat hidupnya. Rasa takut bahwa ia tidak bisa bertahan lebih lama merasuk ke dalam pikirannya.
            Ketika disekolah Hani hanya melamun, Lina yang melihat sahabatnya melamun lalu menegurnya.
            “Kenapa melamun Han?” tanya Lina pada sahabatny
            “Enggg..nggak kok. Lin, apa Jason sekarang pacaran sama Syifa ?” jawab Hani
“Dari mana kamu tahu Han?”Tanya Lina
“Aku dengar itu dari sana-sini. Kudengar mereka sudah pacaran sejak beberapa bulan yang lalu. Apa itu benar Lin?” Tanya Hani
“Iya itu benar, aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Maaf, aku tidak memberitahumu Han. Aku takut nanti kamu jadi sedih” jawab Lina dengan wajah menyesal
“Iya.. aku ngerti kok” jawab Hani
Sebenarnya Hani berbohong pada Lina, ia sangat sedih mendengar Jason ternyata sudah pacaran dengan Syifa. Mengingat Hani sudah menyukai Jason sejak kelas 7. Namun Ia tak ingin menunjukkan kesedihannya.
Hani menjadi semakin murung, bahkan ia menolak melakukan transfusi darah.
            “Hani, ayo kita berangkat ke rumah sakit” ajak Ibu Hani
            “Nggak Bu, Hani capek sekali hari ini. Hani pegen tidur” jawab Hani
            “Ya sudah, tapi besok pagi kita berangkat” jawab Ibu Hani
            Keesokan harinya Ibu Hani mengajak Hani untuk transfusi darah, namun Hani juga menolaknya dengan alasan ada tugas yang harus dikumpulkan besok pagi. Ibu Hani terus membujuk Hani, namun tetap tak membuahkan hasil, Hani malah mengunci diri di kamar.
            Ketika Hani akan berangkat sekolah, Ibu Hani bertanya mengapa Hani tidak bersedia transfusi darah.
“Hani, kenapa kamu tidak mau ke rumah sakit? Kamu tahu kan transfusi darah itu penting buat kamu” ucap Ibu
“Ibu, lebih baik Hani berhenti menjalani pengobatan saja. Lagi pula tabungan Ibu pasti semakin menipis gara-gara aku” ucap Hani
            “Tidak Hani, Ibu masih punya uang untuk pengobatanmu kok. Yang penting kamu harus sembuh, kamu harus terus bertahan untuk Ibu” jawab Ibu Hani
            “Tapi Hani tidak mungkin sembuh kan Bu. Dan Hani juga tahu dulu ayah meninggal karena penyakit Thalasemia juga kan?” jawab Hani mulai terisak
Ibu Hani memeluk anaknya, berusaha memberikan sedikit kekuatan.
            “Tidak ada gunanya Hani hidup, Hani hanya akan membebani Ibu” ucap Hani
            “Jangan berkata begitu Han” jawab Ibu Hani
Namun, tiba-tiba Hani merasa kepalanya berdenyut-denyut, darah mengalir dari hidung kecilnya. Dan seketika Hani pingsan. Ibu yang begitu terkejut karena Hani tiba-tiba pingsan langsung membawa Hani ke rumah sakit segera dibawa ke rumah sakit.
Ibu Hani menunggu hingga dokter keluar dari ruang perawatan.
            “Dokter, bagaimana keadaan anak saya?” tanya Ibu Hani
            “Sekarang keadannya kritis Bu. Ia sedang berjuang keras sekarang.” Jawab dokter
            Mendengar jawaban dari dokter itu, Ibu Hani menangis histeris. Ia takut akan kehilangan anaknya. Beberapa hari Hani tak sadarkan diri. Ibunya selalu menunggui Hani agar Ia menjadi orang pertama yang Hani lihat jika Hani sadar. Ibunya selalu berdoa agar Hani segera membuka matanya kembali, dan Tuhan pun mengabulkan doa mulia dari seorang ibu yang tulus untuk anaknya. Hani akhirnya sadarkan diri
            “Hani, akhirnya kamu sadar nak. Ibu kangen sekali” ucap Ibu Hani mencoba tersenyum
            “Iya Bu, Hani juga kangen sekali sama Ibu” jawab Hani dengan lemah
Ibu Hani mengusap lembut rambut anaknya. Adzan maghrib terdengar.
            “Ibu shalat dulu saja di mushala”ucap Hani
            “Tapi nanti kamu tidak ada yang menjaga” sanggah Ibu Hani
            “Ya sudah, ibu minta tolong suster untuk menungguiku kalau Ibu khawatir” jawab Hani
            “Sebentar ya..ibu panggilkan suster dulu” jawab ibu hani.
Setelah suster datang, Ibu Hani beranjak pergi ke mushola. Hani meminta suster itu untuk mengambilkannya kertas dan pulpen. Dan Hani mulai menulis sesuatu, setelah selesai Ia menyimpannya di bawah selimut. Ibu Hani sudah kembali dari mushala. Hani dan ibunya berbincang-bincang hingga malam cukup larut.
            “Sudah ya Hani, ini kan sudah malam. Ibu sudah ngantuk” ucap Ibu Hani
            “Hani juga sudah ngantuk Bu, kalau begitu Hani tidur dulu ya Bu. Selamat malam Bu” ucap Hani
            “Selamat malam”jawab Ibu Hani sambil mencium puncak kepala Hani.

            Jam sudah menunjukkan jam 06.30tapi Hani belum juga bangun. Ibu Hani lalu mencoba membangunkan Hani.
            “Hani.. bangun nak, sarapan dulu”ucap Ibu Hani
Tapi tidak ada tanggapan
            “Hani.. ayo sarapan dulu, nanti kamu bisa tidur lagi” ucap Ibu Hani dengan mengguncang pelan tubuh Hani.
Tetap saja tidak ada respon dari Hani. Ibu Hani pun mulai khawatir.
            ‘Hani.. bangun Hani, sudah siang.” ucap ibu dengan mengguncang-guncangkan tubuh Hani sedikit lebih kencang.
Namun Hani tak merespon apapun. Ibu Hani berlari untuk memanggil dokter dengan bercucuran air mata. Dokter segera dating dan memeriksa Hani.
“Maaf Bu, Hani sudah pergi” ucap dokter
 “Pergi? Tidak mungkin dokter, tidak mungkin Hani pergi secepat itu.Tidak mungkin Hani tega meninggalkan Ibunya sendirian. Tadi malam kami masih…” ucapan Ibu Hani terhenti, Ia sudah tak kuasa menahan tangisnya.
“Hani.. jangan tinggalkan Ibu hiks.. sendirian. Jangan” tangisan Ibu Hani pecah
“Ibu harus tegar, yakinlah Hani lebih bahagia sekarang” ucap dokter sambil menepuk pundak Ibu Hani, memberinya sedikit kekuatan
            Darah bening mengucur dengan deras dari pelupuk mata Ibu Hani. Ia bagai disambar petir di siang bolong, mengingat semalam Ia baru saja bersenda gurau dengan Hani. Ia lalu memeluk Hani erat, erat sekali. Ia mencium lembut pipi anaknya, hingga pipi Hani sedikit basah karena air mata Ibu Hani. Ibu Hani melihat tangan Hani menggenggam sesuatu, ia mencoba mengambil benda itu.
            “Surat?” ucap Ibu Hani, lalu membacanya
Untuk: Ibu
Ibu, saat Ibu membaca surat ini mungkin Hani sudah pergi. Maafkan Hani karena tidak berpamitan pada Ibu secara langsung, karena Hani tidak tahu bagaimana caranya dan maafkan Hani karena selalu menyusahkan Ibu, Hani tak pernah menuruti perintah Ibu. Ibu, jangan bersedih karena Hani sudah bahagia sekarang, Hani sudah bersama Ayah sekarang. Ibu harus memulai hidup baru lagi, Hani tidak mau Ibu sendirian. Ibu, terimakasih karena Ibu selalu menjadi mentariku, bahkan mentari terakhir dalam hidupku yang menyinariku walau kegelapan malam membuatku terpuruk. Ibu, bolehkah aku memohon satu permintaan? Ibu, saat pemakamanku nanti berjanjilah Ibu tidak akan menangis, begitu pula hari-hari berikutnya. Aku tidak ingin sinar mentariku memudar. Aku menyayangimu lebih dari apapun Ibu

Air mata telah membanjiri wajah Ibu Hani. Ibu Hani menutup surat itu, lalu ia berkata.
            “Mentari mu tak akan menangis lagi, Ibu janji ini adalah air mata terakhir Ibu untukmu.” Sambil tersenyum dan mengelus pipi Hani.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Spring Flower Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea