Semakin hari kegiatan Hani semakin
banyak. Mengingat kini ia sudah duduk di kelas sembilan dan sebentar lagi akan
menempuh ujian nasional. Setiap hari selalu pulang sore, karena sibuk les
disana-sini. Hani jadi sering mimisan dan merasa sangat lemah. Seperti saat ini
Hani kembali mimisan, ia berlari ke kamar mandi karena tidak ingin ibunya tahu
jika Hani mimisan. Tapi karena terburu-buru Hani malah menabrak ibunya. Ibu
Hani melihat darah mengalir dari hidung anaknya, seketika wajahnya berubah
panik.
“Kamu
kenapa Hani? Sudah berapa kali kamu mimisan nak?” Tanya ibu Hani dengan nada
khawatir.
“Sudah
beberapa kali Bu, tapi ini pasti karena aku terlalu lelah.” Jawab Hani agar
ibunya tidak khawatir.
Namun
Ibu Hani tetap khawatir dan segera mengajak Hani untuk pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Hani lalu menjalani tes darah. Hani Nampak begitu
heran dengan ibunya yang terlalu berlebihan menanggapi keadaannya.
“Bu,kenapa
harus tes darah segala? Aku ini tidak apa-apa Bu.” ucap Hani dengan sedikit
kesal. “Tidak ada salahnya kan sayang?” Tanya Ibu. Mendengar jawaban ibuya,
Hani hanya bisa diam.
Setelah
beberapa hari menunggu, Ibu Hani lalu mengambil hasil laboratorium di rumah
sakit. Kecemasan tergambar jelas di wajah Ibu Hani. Seorang suster menyerahkan
sebuah amplop besar. Ibu Hani lalu membukanya. Tubuh Ibu Hani seketika lemas,
air mata mulai membanjiri pipinya. Ia tak sanggup membayangkan jika anak semata
wayangnya menderita penyakit Thalasemia Mayor. Ia berjalan dengan langkah
gontai. Disepanjang jalan ia berpikir bagaimana cara untuk memberitahukan Hani
bahwa Ia menderita Thalasemia Mayor.
Setiba
di rumah, ibu Hani langsung diberondong pertanyaan oleh Hani.
”Ibu,
bagaimana hasil laboratoriumnya? Aku tidak kenapa-kenapa kan Bu?” Tanya Hani
kepada ibunya yang baru sampai.
“Kamu….kaa muuu sakit nak”
ucap Ibu Hani dengan terbata. ”Sakit apa bu?” Tanya Hani.
Hani
langsung mengambil amplop besar dari tangan ibunya. Ia lalu membukanya, disana
tertulis bahwa ia mengidap Thalasemia Mayor.
”Thalasemia
mayor itu apa Bu?” Tanya Hani. Namun Ibu Hani hanya terdiam, tak sanggup
menjawab pertanyaan anaknya. ”Bu!! Kenapa diam?” tanya Hani yang mulai khawatir
dengan sikap ibunya.
Karena
ibunya tak juga memberi jawaban, Hani lalu berlari ke kamarnya dan segera mencari
informasi di internet. Di sana tertulis “Thalasemia mayor merupakan penyakit
darah serius dimana umur sel-sel darah merah amat pendek. Thalasemia merupakan
penyakit darah turunan yang mematikan dan belum bisa disembuhkan. Penderitanya
memerlukan transfusi darah yang dilakukan secara rutin untuk bertahan hidup”
Seketika air mata Hani menetes. Pikirannya sudah melayang jauh, membayangkan
apa yang akan terjadi dengan dirinya kelak.. Tiba-tiba seseorang dengan lembut
memeluknya dari belakang. Hani tahu itu adalah pelukan dari ibunya. Seketika
tangisannya pecah.
“Menangislah
sayang.. jika itu bisa membuatmu lebih baik.” Ucap Ibu Hani sambil megecup
puncak kepala anaknya.
“Ibu, apa Hani bisa sembuh Bu? Hani takut sekali Bu” Tanya Hani ditengah isakan
tangisnya.
“Kamu akan sembuh, kamu harus percaya pada kekuasaan Tuhan” Ucap Ibu Hani
Semenjak hari itu, Hani hanya mengurung diri dikamarnya. Ia tidak mau berangkat
sekolah, bahkan untuk sekedar makan saja Hani tidak mau.
“Hani..
Sayang, Ibu masuk ya.” Ucap Ibu Hani lalu melangkah masuk ke kamar Hani.
“Hani...
makan dulu ya.” Ucap Ibu Hani dengan sabar. Tapi hanya gelengan yang diperoleh
Ibu Hani. “Kenapa kamu jadi begini Hani? Seharusnya kamu semangat untuk sembuh
sayang. Kamu tahu, di luar sana banyak orang yang menderita penyakit mematikan,
tapi mereka terus berjuang melawan sakitnya. Kamu pun harus begitu Hani.” ucap
Ibu Hani.
“Maafkan
aku Ibu, aku terlalu bersedih. Ibu benar seharusnya aku berjuang untuk sembuh
bukannya hanya menyesali apa yang aku derita.” jawab Hani dengan memeluk ibunya.
“Nah..ini
baru Hani yang ibu kenal” kata Ibu hani sambil tersenyum.
Hani pun setuju menjalani pengobatan dan tranfusi darah. Ini adalah hari
pertama Hani menjalani transfusi darah. Ibu Hani setia mendampingi anaknya.
Menggenggam tangan Hani dengan lembut agar rasa sakit yang Hani rasakan sedikit
berkurang. Ibu hani sebenarnya tidak tega melihat anak kesayangannya menahan
sakit, namun ia berusaha kuat agar Hani juga bisa kuat.
“Hani,
untuk saat ini kamu jangan terlalu banyak les ya. Kamu tidak boleh terlalu
lelah. Dua bulan lagi, kamu harus menjalani transfusi darah ” kata dokter
dengan senyum yang tulus.
“Iya dokter, Hani tahu.
“jawab Hani
Keesokan harinya Hani berangkat ke sekolah. Ia tidak memberitahukan
kepada teman-temannya jika ia sedang sakit. Ia berpikir, Ia masih bisa
menanggung deritanya sendirian.
“Hani,
lebih baik kamu tidak usah ikut olahraga dulu, kau kan baru saja sembuh” saran
Lina, sahabat Hani.
“Tidak
apa-apa, lagi pula olahraganya tidak terlalu berat” Jawab Hani, mengingat ia
cukup senang dengan materi olahraga kali ini, yaitu bola voli. Namun, saat
sedang bermain voli, Hani terkena bola di kepalanya, sehingga ia pingsan.
Teman-temannya langsung membawa Hani ke UKS. Lina dan Jason dengan sabar
menunggui Hani hingga sadar. Setelah beberapa menit pingsan, akhirnya Hani
sadar.
“Euhhh…aku
tadi kenapa?” Tanya Hani yang baru saja sadar.
“Tadi
kepala kamu kena bola. Maaf Hani, tadi aku tidak sengaja” jawab Jason dengan
wajah bersalah.
”Engg…
tidak apa-apa Jason, kau tak perlu merasa bersalah. Itu pasti karena aku juga
yang tidak konsentrasi” Jawab Hani.
“Sekali
lagi maafkan aku ya Hani” ucap Jason lagi.
“Eheemmm..
Sudahlah.. kalian berdua sama-sama salah, Oke?” ucap Lina.
Hani menyikut
Lina.”Auuhh..sakit” keluh Lina.
“Kalau
begitu, aku kembali ke kelas dulu ya. Aku harus menyelesaikan tugas membuat
cerpen.” ucap Jason.
“Iya,
baiklah. Maaf karena membuatmu menunda menyelesaikan tugasmu karena aku” jawab
Hani.
“Nggak
masalah.” jawab Jason sambil berlalu pergi.
”Ihh..
kamu kok bilang gitu sih tadi?” Tanya Hani dengan cemberut.
“Memangnya
aku salah apa?” Tanya Lina pura-pura tidak tahu.
”Kamu
merusak suasana tau!!” jawab Hani kesal.
“Hehe..maaf
Hani, aku cuma bercanda. Jangan marah ya
sayang.” ucap Lina menggoda sahabatnya.
”Lain
kali awas ya kalau kamu begitu lagi” ucap Hani. Mereka lalu tertawa bersama.
Beberapa bulan berlalu, kini Hani sudah menjalani transfusi darah yang kesekian
kali. Yang awalnya Hani hanya menjalani transfusi darah dua bulan sekali, kini
Hani harus transfusi darah setiap tiga minggu sekali. Dan itu membuat Hani
kehilangan semangat hidupnya. Rasa takut bahwa ia tidak bisa bertahan lebih
lama merasuk ke dalam pikirannya.
Ketika disekolah Hani hanya melamun, Lina yang melihat sahabatnya melamun lalu
menegurnya.
“Kenapa melamun Han?” tanya Lina pada sahabatny
“Enggg..nggak kok. Lin, apa Jason sekarang pacaran sama Syifa ?” jawab Hani
“Dari
mana kamu tahu Han?”Tanya Lina
“Aku
dengar itu dari sana-sini. Kudengar mereka sudah pacaran sejak beberapa bulan
yang lalu. Apa itu benar Lin?” Tanya Hani
“Iya
itu benar, aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Maaf, aku tidak
memberitahumu Han. Aku takut nanti kamu jadi sedih” jawab Lina dengan wajah
menyesal
“Iya..
aku ngerti kok” jawab Hani
Sebenarnya Hani berbohong
pada Lina, ia sangat sedih mendengar Jason ternyata sudah pacaran dengan Syifa.
Mengingat Hani sudah menyukai Jason sejak kelas 7. Namun Ia tak ingin
menunjukkan kesedihannya.
Hani menjadi semakin murung,
bahkan ia menolak melakukan transfusi darah.
“Hani, ayo kita berangkat ke rumah sakit” ajak Ibu Hani
“Nggak Bu, Hani capek sekali hari ini. Hani pegen tidur” jawab Hani
“Ya sudah, tapi besok pagi kita berangkat” jawab Ibu Hani
Keesokan harinya Ibu Hani mengajak Hani untuk transfusi darah, namun Hani juga
menolaknya dengan alasan ada tugas yang harus dikumpulkan besok pagi. Ibu Hani
terus membujuk Hani, namun tetap tak membuahkan hasil, Hani malah mengunci diri
di kamar.
Ketika Hani akan berangkat sekolah, Ibu Hani bertanya mengapa Hani tidak
bersedia transfusi darah.
“Hani, kenapa kamu tidak mau
ke rumah sakit? Kamu tahu kan transfusi darah itu penting buat kamu” ucap Ibu
“Ibu, lebih baik Hani
berhenti menjalani pengobatan saja. Lagi pula tabungan Ibu pasti semakin
menipis gara-gara aku” ucap Hani
“Tidak Hani, Ibu masih punya uang untuk pengobatanmu kok. Yang penting kamu
harus sembuh, kamu harus terus bertahan untuk Ibu” jawab Ibu Hani
“Tapi Hani tidak mungkin sembuh kan Bu. Dan Hani juga tahu dulu ayah meninggal
karena penyakit Thalasemia juga kan?” jawab Hani mulai terisak
Ibu Hani memeluk anaknya,
berusaha memberikan sedikit kekuatan.
“Tidak ada gunanya Hani hidup, Hani hanya akan membebani Ibu” ucap Hani
“Jangan berkata begitu Han” jawab Ibu Hani
Namun,
tiba-tiba Hani merasa kepalanya berdenyut-denyut, darah mengalir dari hidung
kecilnya. Dan seketika Hani pingsan. Ibu yang begitu terkejut karena Hani
tiba-tiba pingsan langsung membawa Hani ke rumah sakit segera dibawa ke rumah
sakit.
Ibu Hani menunggu hingga
dokter keluar dari ruang perawatan.
“Dokter, bagaimana keadaan anak saya?” tanya Ibu Hani
“Sekarang keadannya kritis Bu. Ia sedang berjuang keras sekarang.” Jawab dokter
Mendengar jawaban dari dokter itu, Ibu Hani menangis histeris. Ia takut akan
kehilangan anaknya. Beberapa hari Hani tak sadarkan diri. Ibunya selalu
menunggui Hani agar Ia menjadi orang pertama yang Hani lihat jika Hani sadar.
Ibunya selalu berdoa agar Hani segera membuka matanya kembali, dan Tuhan pun
mengabulkan doa mulia dari seorang ibu yang tulus untuk anaknya. Hani akhirnya
sadarkan diri
“Hani, akhirnya kamu sadar nak. Ibu kangen sekali” ucap Ibu Hani mencoba
tersenyum
“Iya Bu, Hani juga kangen sekali sama Ibu” jawab Hani dengan lemah
Ibu Hani mengusap lembut
rambut anaknya. Adzan maghrib terdengar.
“Ibu shalat dulu saja di mushala”ucap Hani
“Tapi nanti kamu tidak ada yang menjaga” sanggah Ibu Hani
“Ya sudah, ibu minta tolong suster untuk menungguiku kalau Ibu khawatir” jawab
Hani
“Sebentar ya..ibu panggilkan suster dulu” jawab ibu hani.
Setelah
suster datang, Ibu Hani beranjak pergi ke mushola. Hani meminta suster itu
untuk mengambilkannya kertas dan pulpen. Dan Hani mulai menulis sesuatu,
setelah selesai Ia menyimpannya di bawah selimut. Ibu Hani sudah kembali dari
mushala. Hani dan ibunya berbincang-bincang hingga malam cukup larut.
“Sudah ya Hani, ini kan sudah malam. Ibu sudah ngantuk” ucap Ibu Hani
“Hani juga sudah ngantuk Bu, kalau begitu Hani tidur dulu ya Bu. Selamat malam
Bu” ucap Hani
“Selamat malam”jawab Ibu Hani sambil mencium puncak kepala Hani.
Jam sudah menunjukkan jam 06.30tapi Hani belum juga bangun. Ibu Hani lalu
mencoba membangunkan Hani.
“Hani.. bangun nak, sarapan dulu”ucap Ibu Hani
Tapi tidak ada tanggapan
“Hani.. ayo sarapan dulu, nanti kamu bisa tidur lagi” ucap Ibu Hani dengan
mengguncang pelan tubuh Hani.
Tetap saja tidak ada respon
dari Hani. Ibu Hani pun mulai khawatir.
‘Hani.. bangun Hani, sudah siang.” ucap ibu dengan mengguncang-guncangkan tubuh
Hani sedikit lebih kencang.
Namun
Hani tak merespon apapun. Ibu Hani berlari untuk memanggil dokter dengan
bercucuran air mata. Dokter segera dating dan memeriksa Hani.
“Maaf
Bu, Hani sudah pergi” ucap dokter
“Pergi? Tidak mungkin dokter, tidak mungkin
Hani pergi secepat itu.Tidak mungkin Hani tega meninggalkan Ibunya sendirian.
Tadi malam kami masih…” ucapan Ibu Hani terhenti, Ia sudah tak kuasa menahan
tangisnya.
“Hani..
jangan tinggalkan Ibu hiks.. sendirian. Jangan” tangisan Ibu Hani pecah
“Ibu
harus tegar, yakinlah Hani lebih bahagia sekarang” ucap dokter sambil menepuk
pundak Ibu Hani, memberinya sedikit kekuatan
Darah bening mengucur dengan deras dari pelupuk mata Ibu Hani. Ia bagai
disambar petir di siang bolong, mengingat semalam Ia baru saja bersenda gurau
dengan Hani. Ia lalu memeluk Hani erat, erat sekali. Ia mencium lembut pipi
anaknya, hingga pipi Hani sedikit basah karena air mata Ibu Hani. Ibu Hani
melihat tangan Hani menggenggam sesuatu, ia mencoba mengambil benda itu.
“Surat?” ucap Ibu Hani, lalu membacanya
Untuk: Ibu
Air mata telah membanjiri
wajah Ibu Hani. Ibu Hani menutup surat itu, lalu ia berkata.
“Mentari mu tak akan menangis lagi, Ibu janji ini adalah air mata terakhir Ibu
untukmu.” Sambil tersenyum dan mengelus pipi Hani.
0 komentar:
Posting Komentar